“Siapkah pendiri World Wide Web?”

“OK Google, lest Talk Wikipedia.com”

“Ahaa aku menemukan, Tim Berners-Lee”

Eureka!. Seorang siswa dengan gembiranya menemukan jawaban dengan bantuan Google Assistance. 

Dunia yang kita huni saat ini begitu berubah dengan cepat seiring dengan datangnya revolusi industri 4.0. Revolusi idustri 4.0 atau yang biasa disebut sebagai Revolusi Industri keempat adalah sebutan dari tren otomasi dan pertukaran data dalam teknologi industri (pabrik), mencakup sistem siber, internet of things, komputasi awan (cloud) dan kecerdasan buatan (AI).

 

Apa dampak dari Revolusi Industri 4.0?

Mengutip bahasa Don Tapscott dalam bukunya yang berjudul “The Learning Revolution”, Revolusi Industri “memaksa kita untuk memikirkan kembali segala sesuatu  yang selama ini kita pahami tentang pembelajaran, pendidikan, bisnis, ekonomi dan pemerintahan”

Dalam bidang ekonomi, Kecerdasan Buatan  (Artificial Intelligence) dan big data menjadi trend di kalangan industri kemudian Internet of Things (IoT) mulai menjamur dengan menawarkan pelbagai kemudahan bagi masyarakat umum.

Revolusi industri 4.0 juga melahirkan revolusi belajar. Salah satu contohnya adalah dengan Google Assistance, seorang siswa bisa menemukan jawaban dengan singkat.

 

Tantangan Terbesar Revolusi Industri 4.0

Sudahkah negara kita siap dengan hadirnya Revolusi Industri 4.0?

Pertanyaan di atas sering diungkapan oleh banyak orang di tengah banyaknya problem yang dihadapi oleh bangsa ini. Sebenarnya kita tidak boleh berkecil hati karena menurut data Kominfo, pengguna internet di Indonesia berjumlah 88, 1 juta dari 252,4 juta penduduk Indonesia, menempatkan negara kita sebagai pengguna internet terbesar setelah China, India, US, dan Brasil.

Namun dengan menjadi salah satu negara pengguna internet terbesar, belum mampu membawa negara ini maju dan siap dengan hadirnya revolusi Industri 4.0.

Menurut saya, tantangan terbesar adalah sektor pendidikan. Karena pendidikan dapat menopang revolusi industri 4.0

Revolusi Industri 4.0 tidak sekedar berbicara tentang penyediaan jaringan internet besar-besaran, mengenalkan pelbagai aplikasi pintar namun lebih dari itu, revolusi industri adalah bagaimana kita menyiapkan pendidikan berkualitas dengan baik sehingga kita mampu mengejar ketertinggalan dengan negara-negara maju dan bisa beradaptasi dengan revolusi industri 4.0

Sebelum datangnya revolusi industri 4.0, Jepang jauh-jauh hari sudah menyiapkan dengan merombak total pendidikan mereka. Setelah kekalahan dalam perang dunia ke-2, tepatnya tanggal 15 September 1945, Jepang mengumumkan reformasi pendidikan, Educational Polic for the Construction of New Japan (Kebijakan Pendidikan untuk Rekonstruksi Nasional/Jepang baru).

Pendidikan di Jepang maju dengan pesat, merekapun menjadi salah satu negara yang paling siap di Asia dalam menghadapi revolusi indutri 4.0 saat ini

Professor Hew Gill dari Sunway University bahkan mengatakan (sambil meyontohkan kebijakan kerajaan Malaysia), kurikulum lembaga pendidikan harus menyesuaikan dengan perkembangan (revolusi) industri saat ini.

Ya penopang utama revolusi industri 4.0 adalah pendidikan, sekali lagi pendidikan dengan guru sebagai garda terdepan.

 

Human Development Index (HDI) Indonesia

Kualitas pendidikan suatu negara sangat berkaitan dengan Human Development Index (HDI). Human Development Index (HDI) atau Index Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia yang masih berkisar 0, 69,4 menduduki peringkat ke 116 dari 189 negara seluruh dunia.

Meskipun semenjak tahun 1990 hingga sekarang nilai HDI Indonesia naik, namun masih belum bisa dikatakan baik, bahkan masih jauh tertinggal dari beberapa negara tetangga di ASEAN. Lihat grafik di bawah ini.

Grafis HDI Indonesia

Negara dengan Index Development Index (HDI) baik pasti kualitas pendidikan nya juga baik. Negara yang saat ini menjadi pembicaraan para praktisi pendidikan tanah air karena kualitas pendidikannya, Finlandia bercokol peringkat 15 di bawah US, Kanada dan UK.

HDI Global 2018

Sekali lagi jangan ditanya negara-negara dengan peringkat HDI 25 besar di atas, pasti kualitas pendidikannya sangat bagus sekaligus sangat siap dengan hadirnya revolusi industri 4.0.

Berapa ya HDI negara-negara ASEAN? 

hdi ASEAN 2018

Negara kita hanya unggul dengan Vietnam (117), Myanmar (148), dan Timor Leste (132).

Meningkatkan kualitas pendidikan sangat diperlukan saat ini, salah satunya adalah dalam rangka menyambut era revolusi industri 4.0, sehingga negara kita tidak gagap. Guru dituntut untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

 

Startegi Pembelajaran di Era Revolusi Industri 4.0

Mengutip istilah yang dipopulerkan Professor Rhenald Kasali sebagai Self Disruption!. Atau bahasa sederhananya adalah instropeksi diri untuk mewujudkan rencana aksi, maka ada beberapa strategi pembelajaran di era revolusi insudtri 4.0 yang akan kami tuangkan ke dalam 6 gagasan di bawah ini.

 

1.Membantu Siswa Belajar Bagaimana Belajar

Proses belajar mengajar kita cenderung didaktik. Guru menerangkan pelajaran secara verbal, siswa diminta untuk mendengarkan  secara seksama, dilanjutkan dengan pemberian tugas dan diakhiri dengan mengumumkan hasilnya dihadapan siswa yang lain. Guru kemudian akan memberikan apresisasi kepada siswa yang mendapat nilai baik. Selesai!.

Pembelajaran didaktik cenderung memicu sikap otoritarianisme dalam kelas -tentunya kondisi ini tidak diinginkan oleh siapapun, khususnya siswa. Pembelajaran didaktik merupakan salah satu ciri pendekatan tradisional.Ciri yang mencolok dari pendekatan tradisional adalah, siswa harus belajar dengan konsidi ketaatan penuh (baca: patuh) dan mendapatkan hasil (akademik) yang baik.

Berbeda dengan pembejaran tradisional, pembelajaran progresif memahami bahwa tujuan dari belajar seperti yang tertuang dalam Delors Report (empat pilar pembelajaran) adalah:

 

  • Learning to Know: Belajar tidak hanya mengetahui namun juga memahami secara mendalam apa yang bermakna bagi kehidupannya maupun tidak.
  • Learning to do: Belajar tidak sekedar menerima informasi, namun juga mengimplementasikan informasi tersebut dalam dunia nyata. Siswa belajar tidak hanya mendengar, namun juga melakukannya (praktik).
  • Learning to be: Belajar bagian dari penguasaan keterampilan untuk menjadi diri sendiri. Setiap manusia pasti mempunyai bakat dan minat masing-masing sehingga tidak perlu menjadi orang lain. Dalam proses ini, manusia harus menyadari akan kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya.
  • Learning to Live Together: Menjadi bagian dari proses belajar adalah bagaimana manusia bisa hidup bersama, saling memberi, menghargai, toleransi, dan terbuka.

 

Keempat pilar tersebut dapat diwujudkan melalui pembelajarn konstruktivistik yang pertama kali di populerkan oleh Jean Piaget (ia juga dikenal sebagai bapak dari teori kognitif). Dalam pandangan Kontruktivistik, setiap orang memiliki kesempatan membangun makna yang berbeda-beda.

Dalam proses belajar mengajar, guru hanya sebagai fasilitator untuk membantu siswa belajar bagaimana mereka harus belajar dalam konteks kehidupan mereka. Siswa belajar dengan cara yang berbeda-beda, dan guru membantu mereka menemuka gaya belajar yang terbaik yang sesuai, bukan malah sebaliknya.

Karena itu, guru yang intensional memandang keragaman siswa sebagai sumber daya yang kaya. Mereka belajar tentang kehidupan keluarga, budaya, bahasa, dan kekuatan siswa mereka, dan mereka menghargai masing-masing siswa sebagai individu. Guru yang itensional juga mempelajari data dari ruang kelas mereka dan mempertanyakan praktik-praktik mereka sendiri, dengan menjaga diri kemungkinan bahwa sudut pandang mereka tanpa sengaja dapat membatasi keberhasilan siswa (Slavin, 2006:172)

Menambahkan, menurut Brianna Lee Welsh, model pembelajaran tradisional sangat tidak cocok diterapkan di era Revolusi Industri 4.0.

 

2.Memberikan Kesempatan Siswa Untuk Berkembang dan Berprestasi

Mayoritas diantara kita masih memandang tolak ukur kecerdasan adalah intelegensi (IQ). Seorang anak yang dianggap mempunyai IQ atau prestasi akademik biasa akan kesulitan bisa melanjutkan di sekolah favorit. Menjadikan IQ/intelegensi sebagai wacana akademik seringkali menimbulkan diskriminasi dan banyak konsekuensi negatif (Amstrong: 2006).

Sebagaian ilmuwan yang mentah mentah menolak gagasan tentang wacana prestasi akademik yang diakibatkan oleh pijakan kecerdasan konvensional ini, kemudian para praktisi pendidikan menggagas konsep kecerdasan baru. Seperti yang dicetuskan oleh Professor Howard Gardner dengan konsep kecerdasan majemuk nya.

Menurut Gardner, setiap manusia mempunyai potensi memiliki salah satu kecerdasan diantara kecerdasan jamak (Multiple Intelligence)di bawah ini:

 

  • Kecerdasan Logika
  • Kecerdasan Linguistik
  • Kecerdasan Kinestetik
  • Kecerdasan Natural
  • Kecerdasan Spasial
  • Kecerdasan Musikal
  • Kecerdasan Intrapersonal
  • Kecerdasan Interpersonal
  • Kecerdasan Naturalis

 

Lain lagi dengan Gardner, Professor Gordon Stobart penulis buku yang berjudul Expert Learnner: Challenging the Myth of Ability lebih menggunakan istilah “kemampuan” daripada menggunakan istilah “kecerdasan”. Menurut Stobart, setiap manusia dilahirkan dengan kemampuan tertentu, namun bagaimana kemampuan tersebut bisa berkembang sangat banyak dipengaruhi oleh ligkungan, stimulasi, dan pengalaman yang membawanya. 

Rangkaian proses tersebut diistilahkan Stobart dengan “deliberate practice”. Deliberate practice akan terwujud jika untuk pertama kalinya guru harus memberikan kesempatan kepada siswa, memberikan mereka pilihan untuk melakukan hal-hal yang mereka minati, dilanjutkan dengan memberikan stimulasi, dan bimbingan terarah.

Gagasan Gardner dan Stobart mempunyai titik kesemaan. Mereka berdua percaya bahwa setiap anak pasti mempunyai potensi/kemampuan. Tugas guru adalah menemukan, memberikan kesempatan dan mengarahkan.

“Kita harus menyadari bahwa perkembangan manusia bukanlah sebuah proses mekanik, melainkan proses organic. Dan kita tidak dapat memprediksi hasil dari perkembangan manusia; yang dapat kita lakukan hanyalah, layaknya petani, menciptakan kondisi di mana mereka dapat berkembang” – Sir Ken Robinson, forum TED

India merupakan salah satu negara dengan mencetak para ahli IT handal: software engineering, data scientist, product designer dan lain-lain. India tidak pernah memaksakan warganya menjadi ahli IT, negara tersebut hanya melakukan 3 ini: menyediakan, memberikan stimulus dan deliberate practice

 

3.Membumikan Pendidikan Karakter

Pada tahun 2017, Kemdikbud meluncurkan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). PPK merupakan gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati (etik), olah rasa (estetis), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik) dengan melibatkan, antar sekolah, keluarga dan masyarakat.

Tujuan dari program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) adalah:

  • Untuk membekali peserta didik dalam mewujudkan generasi emas yang siap menghadapi dinamika perubahan di masa depan.
  • Mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan pendidikan karakter sebagai nawa cita utama.
  • Merevitalisasi dan memperkuat potensi dan kompetensi ekosistem pendidikan.

Penyebaran konsep PPK sudah dibuat melalui pelbagai metode dan kegiatan. Sampai saat ini sudah banyak sekolah yang mendapatkan bimbingan teknis dari Kemdikbud.

Pertanyaannya adalah, bisakah program PPK tersebut berjalan terus menerus atau konsisten? Pertanyaan kedua, seberapa besar kah dampak dari program PPK?

Ada permasalah mendasar sebenarnya. Kunci dari penerapan program PPK terletak dari seberapa besar kemampuan yang sudah kita keluarkan agar kita memiliki karakter yang positif sehingga menjadi sebuah habits. Kebiasaan inilah yang akan membumikan pendidikan karakter.

 

Brian Tracy memberikan Tips bagaimana kita bisa membuat kebiasaan (Habits) baru yang positif:

1). Make A Decision. Putuskan dengan jelas target kebiasaan apa yang ingin kita bangun? Rencanakan juga learning & action schedule.

2). Never Allow An Exception To Your New Habit. Jangan biarkan atau terus menerus Anda menerima toleransi/pengecualian yang membuat Anda tidak memenuhi ekspektasi.

3). Tell others You Are Practicing A New Behavior. Hai saya sudah tidak jadi orang pemarah, lho!

4). Visualize Your New Habit. Semakin sering Anda membayangkan sudah memiliki kebiasaan baru, semakin cepat perilaku baru akan diterima oleh pikiran bawah sadar.

5). Create An Affirmation. Ucapkanlah kata-kata yang menjadi goal kebiasan baru Anda. Ulangi terus menerus. Affirmasi bagian dari keajaiban verbal.

6). Resolve To Persist. Tetaplah bertahan, meski goal Anda belum tercapai hingga merasakan ketidaknyamanan. Keputusan untuk bertahan semakin kuat, membuat Anda tidak akan berjalan ke belakang.

7). Reward Yourself. Beri penghargaan atau imbalan pada  diri sendiri ketika Anda untuk tetap dalam jalur untuk membuat kebiasan baru.

 

Menurut Yuswohadi dari MarkPlus Inc, Revolusi Industri 4.0 tidak hanya menawarkan sisi positif (the promises) tapi juga negatif (the perils). Pendidikan Karakter dapat berfungsi untuk mengerem sisi negatif tersebut.

 

4.Menciptakan Lingkungan Pendidikan Ramah Anak

UNICEF mengembangkan kerangka kerja untuk sistem pendidikan dan sekolah ramah anak. Sekolah ramah anak dicirikan sebagai inklusif, sehat, protektif untuk semua anak, efektif, dan terdapat keterlibatan keluarga serta masyarakat. Anak-anak belajar tidak hanya di sekolah, tetapi juga dirumah dan di lingkungan sekitar. Lingkungan di mana anak-anak berada harus bisa menciptakan keramahan.

Sekolah atau Lingkungan Yang Ramah Anak dicirikan sebagai berikut:

 

  • Inklusif untuk Siswa
  • Efektif Untuk Belajar
  • Kesehatan dan Proteksi terhadap Siswa
  • Sensitif Terhadap Isu Gender
  • Ada keterlibatan Anak-anak, Keluarga dan Masyarakat.

 

Memilih sekolah atau lingkungan belajar ramah anak sangat penting dalam rangka mendukung perkembangan anak. Jargon sekolah inklusi sudah terngiang di mana-mana. Beberapa institusi non formal juga mulai menyadari betapa pentingnya menyediakan lingkungan belajar ramah anak.

Pentingnya lingkungan ramah anak dalam mendukung proses tumbuh kembang dan belajar didukung dalam teori ekologi Bronfenbrenner. Bronfenbrenner (Yao Tung: 2015) menyatakan bahwa perilaku seseorang tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan dampak dari interaksi murid tersebut dengan lingkungan di luar.

Lingkungan ramah anak juga membuat anak-anak nyaman belajar teknologi. Saya tidak membayangkan dahulu tempat kerja/industri sangat rigid. Kemudian Era revolusi industri 4.0 memunculkan banyak startups dengan menawarkan konsep kerja yang nyaman.

Sumber:edsurge.org

Bagaimana dengan sekolah, tempat di mana-mana anak-anak belajar? bisakah sekolah dibuat nyawan seperti gambar di atas? Atau minimal seperti Riverside yang dikelola oleh Kiran Ben Sethi di India.

 

5.Melek Teknologi atau Internet/IoT

Selamat datang internet, selamat datang IoT!. IoT atau Internet of Things.  IoT dapat dimaknai dengan teknologi yang memungkinkan benda-benda disekitar kita terhubung dengan jaringan internet. Kehadiran IoT seiring dengan munculnya Revolusi Industri 4.0.

Salah satu produk IoT yang akrab di telinga kita adalah layanan Global Postitioning System atau GPS, dan baru-baru ini muncul Google Assistance.

Revolusi Industri 4.0 (sangat identik dengan lahirnya revolusi belajar) memaksa guru harus menguasai keterampilan yang berkaitan dengan teknologi, khususnya internet -lebih dalam lagi IoT.

Agar bisa bisa menguasai keterampilan teknologi internet, apa yang harus dilakukan oleh guru?.

 

Saya akan menyampaikan step by step berikut.

 

Step1. Temukan alasan kuat mengapa harus menggunakan internet sehingga membuat guru memutuskan memanfaatkan sumber daya internet.

Dale H Schunk dalam bukunya yang berjudul “Learning Theories” menuliskan 5 fungsi teknologi:

 

  • Alat untuk membantu mengembangkan pengetahuan
  • Pengusung informasi untuk mendalamii pengetahuan yang mendukung pembeajaran dengan pengembangan
  • Konteks untuk mendukung learning by doing
  • Media sosial untuk mendukung learning by talking
  • Pasangan intelektual untuk mendukung pembelajaran dengan refleksi

 

Secara spesifik, Serim Ferdi menuliskan 10 alasan mengapa seorang guru harus menggunakan internet. Ke-10 alasan tersebut:

  • Untuk menemukan bahan (pembelajaran) yang murah atau gratis
  • Untuk menghubungkan ruang kelas ke dunia yang lebih besar
  • Untuk membantu para guru dalam manajemen waktu
  • Memotivasi siswa
  • Memberi siswa kesempatan belajar dengan to do
  • Memperluas peluang untuk “telementoring”
  • Membantu guru berkomunikasi dan berbagi pengalaman dan ide dengan guru lain
  • Membantu mendekatkan sekolah dan masyarakat.
  • Membantu para guru menyebarkan berita baik tentang apa yang terjadi di ruang kelas mereka.
  • Untuk “meremajakan” kehidupan profesional guru.

 

Step 2. Belajar dari yang mudah kemudian Terapkan

edutech

Mulailah mempelajari teknologi internet mulai dari sederhana yang memungkinkan guru bisa mengimplementasikannya dalam pembelajaran di kelas, misalnya menggunaan Youtube, Google Classroom, Adobe Spark, Mind Map, dan sejenisya.

 

Step 3. Menjadi Blogger

Dalam revolusi Industri 4.0 informasi dengan cepat bisa dibuat, di distribusikan dan di dapat. Informasi beredar melalui World Wide Web dengan website atau blog medianya. Di Era Revolusi Industri 4.0, guru harus mampu memanfaatkan atau menggunakan website atau blog.

Mengapa?

Revolusi Industri 4.0 melahirkan revolusi belajar dengan banyaknya siswa atau generasi millenial mengakses internet.  Internet harus dipenuhui oleh pengetahuan yang bermanfaat bagi siswa. Karena itu guru harus berperan di dalamnya dengan mengisi dan menyebarkan pengetahuan kepada dunia melalui website maupun blog.

“Selama dekade terakhir, populasi pengguna internet secara global tumbuh menjadi 2, 7miliar orang” – McKinsey

 

Selain itu, manfaat Website atau Blog bagi Guru adalah:

 

  • Sebagai media pembelajaran.
  • Meningkatkan interaksi siswa dalam proses belajar.
  • Sebagai sarana menyimpan dokumentasi kegiatan guru.
  • Meningkatkan pengembangan karir/keprofesian guru.
  • Meningkatkan kemampuan dalam literasi baik guru maupun siswa.
  • Membangun jaringan global antar pendidik di seluruh dunia.
  • Membantu guru dalam meningkatkan kemampuan di bidang IT.

 

Guru bisa membuat website atau blog dengan menggunakan platform blogger, wordpress, google site, tumblr, weebly, ghost.org, dan medium. Yang sering digunakan adalah blogger dan wordpress.

Seperti  Steven Sutantro blogger Indonesia dan Kathleen Morris seorang guru di Victoria, Australia menggunakan wordpress sebagai media untuk menuangkan gagasan dalam bidang pendidikan. Banyak yang menggunakan wordpress, karena platform tersebut sangat mudah digunakan.

Guru bisa membuat blog gratis dengan memanfaatkan platform seperti, wordpress.com. Namun platform gratis banyak kekurangan. Kekuranganya adalah guru tidak bisa menggunakan domain sendiri, so domainnya sudah disediakan oleh penyedia platform.

Contoh:

Pak Sanjaya ingin membuat blog wordpress. Ia hanya bisa membuat blog dengan nama Sanjaya.wordpress.com, tidak bisa Sanjaya.com/net.

Selain itu, kapasitas penyimpanan disk spacenya kecil, hanya sebesar 3 GB.

WordPress menyediakan versi berbayar, melalui platform wordpress.org. Menggunakan wordpress.org, berarti guru bisa membuat domain sendiri, seperti Sanjaya.com dan memiliki kapasitas ruang penyimpanan (hosting) lumayan besar.

Namun bagaimana cara membuatnya? Ah susah dan ribet. Pasti mahal pula.

Tidak!. Zaman dahulu memang website mahal dan ribet. Namun sekarang membuat website sangat mudah, tidak perlu menjadi programmer terlebih dahulu untuk mengelola website. Banyak sekali perusahaan teknologi yang menyediakan jasa supporting website atau blog, seperti Niagahoster.

Niagahoster merupakan salah satu perusahaan teknologi yang bergerak dalam penyedia layanan hosting dan domain dari kota Gudeg, Yogyakarta. Niagahoster terkenal dalam menghasilkan produk layanan Hosting Terbaik, Aman, Cepat dan Murah

Bagaimana dengan guru yang awam dengan blog atau website? Sekali lagi, Niagahoster akan membantu guru mulai dari nol. Memberikan tutorial hingga sampai meremote dari jarak jauh.

alasan menggunakan niagahoster

Step 4. Berinternet dengan Aman

Internet seperti pedang bermata dua. Di suatu sisi mendatangkan manfaat, disisi lain bisa mendatangkan masalah. Apa yang bisa kita lakukan agar terjadi keseimbangan -guru dan siswa bisa memanfaatkan internet, di saat yang sama juga bisa menangkal efek negatif yang ditimbulkan.

 

  • Pelajari kebijakan dan pedoman segala sumber daya yang disediakan oleh internet.
  • Sosialisasikan dasar-dasar berinternet (termasuk bermedia sosial) kepada siswa.
  • Ajarkan siswa budaya internet sehat, seperti tidak membuli, menghindari perdebatan, dan tidak menyebarkan hoaxs.
  • Buat kebijakan penggunaan internet di sekolah.
  • Awasi penggunaan internet oleh siswa.

 

Teknologi (internet/iOT) tidak hanya bermanfaat dalam memudahkan belajar, dalam jangka panjang proyek teknologi global (internet) bisa mengurangi keyakinan etnosentris siswa. Membangun koneksi aktif di seluruh dunia, memberi siswa peluang untuk mengerti perspektif orang lain, dengan lebih baik memahami budaya lain, dan mengurangi prasangka (Santrock: 2008).

 

Step 5. Guru Pembelajar

Guru harus terus belajar dan belajar karena zaman akan selalu berubah, perkembangan teknologi (internet) juga akan mengikutinya. Era Revolusi Industri 4.0, memberikan tantangan bagi guru berada dalam komunitas global, untuk bersama-sama belajar dan berbagi pengetahuan.

Tidak ada alasan bagi guru untuk stuck, berhenti meningkatkan kemampuan literasi dan belajar teknologi, karena pengetahuan saat ini dengan mudah di dapat melalui MOOCs atau Open Course Ware, misalnya.

 

6.Menjadi Guru Efektif

Ada sebuah data yang menarik. Para siswa diminta untuk menuliskan apa saja kriteria guru yang mereka sukai dan tidak. Hasilnya …

Teacher Like and dislike

Seorang guru bisa saja secara fisik hadir di hadapan siswanya, namun belum tentu para guru bisa menghadirkan hati dan pikirannya dalam kelas. Seorang guru yang tidak bisa menghadirkan semuanya, ia tidak akan bisa mengajar dengan efektif.

Bagaimana menjadi guru efektif agar disukai oleh siswa? Karakteristik Guru efektif menurut Hildebrand (1971) adalah:

 

1). Bisa Mengorganisasi dan Memperjelas

  • Menjelaskan materi pelajaran dengan baik dan jelas
  • Mempersiapkan pelajaran dengan baik
  • Membuat topik yang sulit menjadi mudah dimengerti
  • Menggunakan contoh
  • Memperjelas tujuan pembelajaran
  • Menetapkan konteks materi

2). Melakukan Pendekatan Analis dan Sintesis

  • Memberikan perintah menyeluruh mulai dari lapangan/real
  • Kontras implikasi dengan berbagai teori
  • Memberi siswa perspektif realitas, masa lalu, saat ini, dan masa depan
  • Menyajikan fakta dan konsep dari bidang terkait
  • Membahas sudut pandang selain miliknya sendiri

3). Dinamis dan Antusias

  • Menjadi guru energik dan dinamis
  • Menikmati profesi guru
  • Menyampaikan kecintaan pada bidang/profesi
  • Memiliki sifat percaya diri

4). Interaksi Instruktur/Pengajar-Kelompok

  • Guru dapat merancang, mengarahkan, dan mempercepat interaksi di dalam kelas
  • Mendorong pemikiran mandiri dan menerima kritik
  • Menggunakan kecerdasan dan humor secara efektif
  • Pembicara publik yang baik
  • Mengetahui apakah siswa mengikuti materi atau tidak
  • Selalu mengevaluasi diri dengan memperhatikan kualitas pengajarannya

5). Interaksi Guru dan Siswa

  • Adil dalam membuat evaluasi
  • Mempunyai sifat humble yang dapat menjadikan magnet bagi guru. Sehingga siswa menjadikan guru sebagai sumber informasi/nasehat

 

Kesimpulan

Kesimpulannya adalah

Revolusi Industri 4.o sudah hadir. Salah satu cara untuk menyambutnya adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikan kita. Karena pendidikan merupakan penopang dan kunci era industri 4.o dengan guru sebagai garda terdepannya. Meningkatkan kualitas pendidikan tertuang dalam gagasan implementasi strategi pembejaran di Era Industri 4.0 yang saya rangkum dalam infografis di bawah ini.

 

Startegi Pembelajaran di Era Revolusi Industri 4.0-01

Download infografis

Sumber Referensi Utama


Armstrong, Thomas. 2006. The Best School: How Human Development Research Should Inform Educational Practice. Virginia: ASCD

Schunk, Dale H. 2012. Learning Theories An Educational Perspective. London: Pearson Education

Slavin, Robert E. 2006. Educational Psychology: Theory and Practice. Boston: Pearson Education.

Yao Tung, Khoe. 2015. Pembelajaran dan Perkembangan Belajar. Jakarta:Indeks.

 

Sumber Illustrasi: Copyright 2018 Katerina Limpitsouni/undraw