Ketika SD, ia dijuluki siswa bodoh dan tidak mempunyai masa depan. Namun sedikit demi sedikit anak itu mampu keluar dari yang dipersepsikan kebanyakan guru-gurunya ketika itu. Dia berhasil membuktikannya dengan diterimanya di salah satu universitas terkenal di Singapura, NUS. Tidak hanya itu, ia bahkan berhasil menjadi salah satu alumni terbaik kampus terbesar di Asia Tenggara. Adam Kho namanya, seorang motivator dan pengusaha muda yang telah melejit hingga pelbagai benua.

 

Adam sebagaian dari anak-anak muda yang telah mampu keluar dari persepsi dan problem dirinya sendiri –problem tersebut menghinggapi mereka di saat mereka berada dalam usia sekolah. Salah satu kunci sukses Adam adalah, bagaimana dia mampu merubah mind set dirinya sendiri dan memanfaatkan momentum di saat berada dalam usia-usia emas untuk belajar di bangku sekolah hingga perguruan tinggi.

Kami menyebutnya sebagai efektifitas sebagai salah satu kunci keberhasilan siswa. Efektifitas menggambarkan bagaimana siswa mampu memanfaatkan sebuah momentum ketika mengenyam pendidikan sehingga hasil yang mereka dapat adalah sebuah keberhasilan yang terukur.

 

Bagaiamana menjadi siswa yang efektif?. Kita-kiat berikut akan menjelaskan langkah-langkah menjadi siswa efektif.

 

#1. Membangun Sebuah Tujuan.

 

Para praktisi manajemen percaya bahwa tujuan akhir akan menuntun seseorang (maupun institusi) untuk terus berjalan sesuai dengan tujuan yang ingin di gapai. ‘without a purpose, life is a motion. Without meaning, activity without direction, and events without reason”, ucap Rick Warren.

 

Meskipun suatu saat kamu dilanda malas, namun kamu mempunyai tujuan, semangat itu akan kembali lagi, seperti yang diucapkan oleh Profesor Ken Sutanto, “kalian bukanya ‘tidak bisa’. Bukan juga ‘tidak mampu’. Hanya tidak punya tujuan atau tidak bisa melihat tujuan.”.

 

Nah, tujuan yang terbaik adalah sebuah tujuan akhir yang ingin di gapai, “Starting with the End”.

 

Tulis tujuan kamu, kemudian visualisasikan. Tujuan akhir saya adalah …..

#2. Manajemen Waktu

 

Manajemen waktu berarti bagaimana kamu bisa mengatur waktu kamu dalam sehari-hari. Lebih khususnya, bagaimana kamu merencanakan aktivitas belajar yang tepat. Waktu yang tepat untuk belajar masing-masing siswa berbeda-beda. Ada yang lebih suka belajar setelah pukul 18.00, bahkan ada yang lebih suka belajar mulai pagi hari atau pukul 03.00.

 

Manajemen waktu juga berbicara bagaimana cara kamu menjabarkan dan memanage tujuan akhir yang kamu tulis agar bisa terwujud.

 

Misal tujuan akhir kamu adalah:

 

Menjadi ahli software engineering seperti Larry dan Brin, Google Creator.

 

Langkah-langkah jangka panjang untuk meraih:

 

  • Lulus SMA mendaftar di PT jurusan Teknik Informatika/ SI
  • Belajar Coding atau Programmer.
  • Selepas PT, magang di perusahaan IT.
  • Sambil belajar membuat aplikasi.

 

Setelah mempunyai banyak pengalaman dan portofolio:

 

  • Mendirikan perusahaan IT.
  • Menjadi konsultan IT.
  • Membuat produk-produk IT.
  • Go Internasional.

 

Dari perencanaan di atas, saat nya kamu memanage waktu kamu. Mulai dari mana? mulai setelah kamu membuat perencanaan di atas.

 

Gunakan kuadran waktu di bawah ini sehingga kamu bisa membuat skala prioritas. Mana kegiatan yang harus kamu dahulukan, mana yang bisa ditunda atau yang harus dihapus (tidak perlu dikerjakan).

Matrik manajemen waktu

Matrik manajemen waktu

#3. Menciptakan habits.

 

Setelah kamu membuat perencanaan aktivitas harian, biasakan untuk mengerjakan apa-apa yang telah kamu rencanakan. Gunakan Tools untuk mengontrol agar kamu tetap berada dalam rel, kamu bisa menggunakan Google Apps atau Tools sejenis.

 

Tips menciptakan habits:

 

  1. Ciptakan tekad yang besar.
  2. Mulai dengan passion.
  3. Mulai dari hal-hal yang kecil.
  4. Ciptakan langkah-demilangkah.
  5. Hindari sikap perfeksionis.
  6. Lakukan sebisa kamu, meskipun belum sempurna.

 

#4. Jangan Menunda-nunda.

 

Salah satu faktor keberhasilan Gerry Windiarto Mohamad Dunda berhasil meraih medali emas dalam ajang Asian Physics Plimpiad (AphO) ke-18 di Rusia tahun 2017 adalah kegigihan dan tidak pernah menunda-nunda belajar.

 

Bukan berarti semuanya tidak boleh kamu tunda. Berikut ini beberapa sebab sehingga kamu bisa mempertimbangkan untuk menunda sebuah aktivitas (belajar) misalnya:

 

Contoh:

 

  1. Di saat kamu sakit.
  2. Orang terdekatmu membtuhukan pertolongan kamu.
  3. Di saat kamu benar-benar kehilangan mood.
  4. Ada kegiatan lain yang harus kamu kerjakan.
  5. Kamu mempunyai kegiatan kolektif yang mendesak.

 

#5. Pilih Gaya Belajar Terbaik.

 

Setiap siswa pasti mempunyai gaya belajar sendiri-sendiri. Ada yang tipe verbal, visual gabungan antara vervbal dan visual atau bertipe kinestetik. Nikmati gaya belajar kamu. Jika belum menemukan, cari dan suatu ketika pasti kamu akan menemukannya.

 

Jika kamu seorang visual atau spasial learner, ketika belajar cari referensi-referensi belajar yang kaya secara visual. Jika kamu seorang kinestetik, sulit bagi kamu untuk belajar sambil termenung di atas meja.

 

Kuncinya adalah temukan dan sesuaikan.

 

#6. Proaktif.

 

Sikap proaktif adalah sikap positif yang keluar dari diri seseorang yang dimanifestasikan dengan: memulai sebuah kebaikan, menjadi pertama, berinisiatif, merespon dengan cepat dengan sikap dan tutur yang positif. Dalam sisi yang berlawanan terdapat sikap reaktif. Jelas sikap reaktif ini pasti akan merugikan kamu, apalagi kamu terbiasa dengan sikap-sikap reaktif.

 

Proaktif VS Reaktif.

 

Sandi diminta untuk menerjakan soal aljabar oleh guru matematikanya. Namun Sandi menggerutu, “aku tidak bisa”, “aku tidak bisa mengerjakan soal itu”, “yah! Jika bu Armi memintaku, aku terpaksa deh mengerjakannya”.

 

Seperti Sandi, Alila juga diminta untuk mengerjakan soal aljabar. Alila berujar “Baik akan kukerjakan”, “Soal ini sulit, pasti ada jalan”, “akan aku pelajari jika aku menemukan bagian yang tersulit”.

 

Kamu akan menjumpai kejadian reaktif (diwakili oleh Sandi) dan pro aktif (diwakili oleh Alila). Bahasa reaktif dan proaktif sangat menentukan sikap kamu selanjutnya. Maka kamu harus berhati-hati dengan bahasa reaktif.

Bahasa reaktif dan pro

Kamu harus mengendalikan suasa hatikamu kemudian memilih respon yang terbaik. Jika tidak bisa mengendalikan hati, pasti kamu akan memelih respon negatif.

 

#7. Berkolaborasi

Berkolaborasilah dengan teman kamu. Kolaborasi tidak hanya ketika kamu bermain, tetapi juga belajar. Belajar kelompok merupakan salah satu bentuk kolaborasi. Partner tidak hanya teman sekelas kamu, bisa juga kakak tingkat kamu, guru atau orang yang kamu percayai yang bisa membantumu dalam meningkatkan kemampuan akademis maupun non akademis.

 

Berkolaborasi adalah memanfaatkan perbedaan, ada keterbukaan bukan masing-masing ingin menang sendiri dan menemukan cara-cara baru yang lebih baik.

 

#8. Arsip Pengetahuan

 

Pengetahuan yang kamu dapat dari guru, teman, orang tua sangat berharga. Ketika pengetahuan yang didapat jumlahnya sangat banyak, akan sulit kamu mengingatnya semua. Jika tidak dikelola dengan baik, kamu akan kebingungan jika suatu saat membutuhkan kembali pengetahuan yang kamu peroleh. Perpustakaan rumah bisa menjadi alternatif. Di era digital, kamu bisa mengelola pengetahuan dengan bantuan Google Drive.

 

#9. Tinggalkan Meja Belajar.

 

Sesekali kamu perlu meninggalkan meja belajar untuk merenggangkan otot-otot kamu yang mungkin mengalami kelelahan setelah kamu forsir untuk belajar. Carilah kegiatan positif, semisal olahraga, bermain atau jalan-jalan. Aktivitas “berhenti sejenak” dapat membuat kamu rileks, bahkan kamu bisa mendapatkan inspirasi di sana.

 

#10. Membuat Karya.

 

Menurut Edgar Dale, siswa akan mendapatkan hasil belajar lebih baik yang bersumber dari: “Do” atau “Action” dari pada verbal bahkan visual. Berkaryalah dengan mengimplementasikan apa yang kamu dapat dari sekolah. Cara sederhana, setelah pelajaran selesai, pelajari kembali ilmu yang kamu dapat dari guru, kemudian buatlah catatan ringan. Lebih spesial lagi, jika kamu bisa mempublikasikan catatan tersebut kamu unggah di internet melalui pelbagai media, semisal blog, Google Site, atau Adobe Spark.

 

Membuat karya, sama maknanya dengan kontribusi. Selain menulis, aktiv dalam kegiatan pelbagai organisasi di sekolah sama halnya dengan karya dan kontribusi. Keterlibatan kamu dalam pelbagai kegiatan tersebut, akan membuat hidup kamu berbeda; life skill akan kamu dapatkan di sana yang akan membuat hidup kamu semakin efektif.

 

So kesimpulannya adalah?lihat grafis di bawah ini

 

10 kiat menjadi siswa efektif