Dalam proses belajar, guru memberikan pengetahuan kepada siswa sehingga terjadi sebuah perubahan –tingkat pemahaman siswa meningkat dari sebelumnya. Dalam konsep pendidikan konstruktivisme, guru hanya sebagai failitator, pembimbing, penuntun dan yang menjembatani antara siswa dan pengetahuan itu sendiri.

 

Seberapa besar keberhasilan siswa mendapat pengetahuan yang maksimal tergantung kepada seberapa besar kapasitas yang dimiliki oleh guru dalam menjalankan perannya sebagai fasilitator.

 

Diera perkembangan teknologi semakin maju, ditambah dengan dengan hadirnya zaman Now, guru dituntut untuk lebih kreatif dalam menyampaikan pengetahuan kepada para siswa. Zaman “Old” proses transfer knowledge bisa menggunakan pendekatan verbal, namun zaman Now, pendekatan verbal semata tidak cukup.

 

Kehadiran media pembelajaran dirasakan sangat membantu para guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.

 

Pertanyaan penting yang harus hadir dibenak guru adalah, “Media apa yang harus saya buat pada semester ini?”, “Saya harus menggunakan media apa untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas saya?”, dan sebagainya.

 

Memahami Media

 

Media merupakan bentuk jamak dari medium, yang dapat didefiniskan sebagai perantara terjadinya komunikasi dari pengirim menuju penerima. Media merupakan salah satu komponen komunikasi, yakni sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan.

 

Media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan oleh guru (komunikator) untuk menyalurkan pesan (pengetahuan, bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang, meningkatkan perhatian, dan minat siswa (komunikan) dalam proses kegiatan belajar mengajar, sehingga tujuan belajar yang telah direncanakan akan tercapai.

 

Gagne mendefinisikan secara luas terkait media pembelajaran. Menurut Gagne, media adalah pelbagai komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar.

 

Posisi media pembelajaran dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

 

kedudukan media

 

Mengapa harus menggunakan media?

 

Dalam perspektif psikologi, anak akan lebih mudah mempelajari hal yang kongkrit (nyata) daripada abstrak. Berkaitan dengan hal tersebut, posisi media pembelajaran sangat penting karena media pembelajaran bisa sebagai media kongkrit atau menjelaskan sesuatu yang abstrak.

 

Para praktisi pendidikan memberikan penjelasan sebagai berikut:

 

Pertama, menurut Jerome Bruner, dalam proses pembelajaran hendaknya menggunakan urutan dari belajar dengan gambaran (iconic representation of experiment), kemudian belajar dengan simbol. Dari penjelasan Bruner tersebut, Media pembelajaran bisa menjadi bagian dari Iconic representation of experiment.

 

Kedua, Charles F Haban, menjelaskan bahwa nilai dari sebuah media terletak pada tingkatan realistiknya dalam proses menanamkan konsep. Haban menjelaskan media dari yang paling nyata ke paling abstrak.

 

Ketiga, Edgar Dale membuat jenjang kongkrit abstrak dengan dimulai prosedur berikut: siswa belajar dengan pengalaman nyata-pengamatan kejadian nyata-pengamatan terhadap kejadian yang disajikan media-terakhir siswa belajar dari pengamatan yang disajikan dalam bentuk simbol. Dale menjelaskan posisi media yang sangat penting dalam proses pembelajaran siswa.

 

cone experience

 

Lebih detilnya lihat gambar di bawah ini.

 

Dari gambar di atas dapat kita peroleh penjelasan bahwa efektifitas belajar akan lebih baik jika siswa belajar dari apa-apa yang mereka lihat. Pemahaman siswa meningkat ketika siswa belajar dari apa yang mereka lihat (visual) dan mereka dengar (auditory). Pemahaman siswa meningkat secara signifikan melalui pendekatan praktis (do and say).

 

Posisi media mempunyai peranan yang penting. Media bisa digunakan sebagai pendekatan visual, auditory (mix keduanya), maupun sebagai pendekatan praktis.

 

Kegunaan Media Pembelajaran.

 

Secara spesifik media pembelajaran mempunyai fungsi sebagai berikut:

 

Memperjelas pesan.

Mengatasi keterbatasan ruang, dan waktu.

Meningkatkan gairah dan interaksi belajar.

Membantu siswa dalam menggunakan pelbagai modalitas belajar.

 

Macam-macam media pembelajaran

 

proses pengembangan media

 

Secara umum media pembelajaran dibedakan menjadi media cetak dan non cetak. Secara spesifik dibedakan menjadi:

 

Media teks seperti tulisan dalam papan tulis, dan buku; Media audio: alat perekam suara; media visual seperti poster, gambar dan inforgrafis; Media bergerak seperti video dan animasi; kemudian juga ada media manipulatif seperti benda tiga dimensi.

 

Mengembangkan media pembelajaran.

 

Banyak guru yang ingin membuat media pembelajaran namun kebingungan harus memulai dari mana. Ada beberapa prosedur atau langkah-langkah yang harus diketahui oleh guru.

 

Saya lebih senang dengan menggunakan istilah design media pembelajaran. Berikut ini design pengembangan media:

 

Langkah Pertama, Identifikasi.

 

Tahap awal dalam mengembangkan media adalah melakukan identifikasi, terutama terkait kebutuhan siswa. Identifikasi berdasarkan pada gap (kesenjangan) yang akhirnya menimbulkan problem di kelas. Kesenjangan adalah ketidaksesuaian antara keterampilan, pengetahuan dan sikap siswa dengan tujuan atau goal yang telah direncanakan oleh guru.

 

Contoh kesenjangan.

 

Studi kasus.

 

Guru menginginkan siswa berkebutuhan khusus kelas VII C bisa menguasai angka 1 sampai 100. Namun dalam kenyataannya, beberapa siswa hanya mampu menguasai angka 1 sampai 50.

 

Beberapa siswa yang mengalami kesulitan karena disebabkan mereka mengalami problematika kognitif yang sedang, sehingga tidak mudah mengingat atau memahami pengetahuan yang bersifat abstrak.

 

Guru yang baik harus memahami kesenjangan di atas. Kemudian guru harus melakukan indentifikasi learning style. Merujuk pada teori kecerdasan majemuk, Profesor Howard Gardner, mengatakan bahwa setiap anak mempunyai gaya belajar sendiri-sendiri. Ada anak yang mempunyai gaya belajar auditory, tipe visual, dan tipe kinestetik.

 

Selain tipe belajar, guru juga harus memahami karakteristik lain, seperti fisik dan aspek psikologis siswa.

 

Jadi, dalam tahap ini, guru harus mengetahui kebutuhan dan karakteristik siswa di dalam kelas. Sangat tidak mungkin jika guru hanya mengandalkan media auditory dalam rangka meningkatkan pemahaman siswa kelas VIIC.

 

Langkah kedua, Perumusan Tujuan.

 

Dalam merencanakan media pembelajaran, guru harus memiliki tujuan yang baik. Tujuan yang baik harus jelas, terukur, dan bersifat operasional. Ada beberapa ketentuan dalam merumuskan tujuan, diantaranya adalah:

 

Learner Oriented.

 

Learner Oriented harus berpatokan pada perilaku siswa, bukan guru. Selain itu, perilakau yang diharapkan sedapat mungkin bisa dilakukan oleh siswa.

 

Contoh.

 

Siswa kelas VIIC (Retardasi mental) dapat menyebutkan angka 1-100.

 

Operational.

 

Perumusan tujuan harus bersifat spesifik dan operasional sehingga mudah untuk mengukur tingkat keberhasilannya. Tujuan yang spesifik terkait kata kerja. Kata kerja umum untuk perilaku yang umum dan kata kerja yang khusus untuk perilaku yang khusus.

 

Contoh. Guru mengajarakan bilangan 1 sampai 100 dengan menggunakan media animasi.

 

Tujuan yang dapat dirumuskan: Siswa mampu menyebutkan angka 1-100.

 

teknik perumusan tujuan

 

ABDC.

 

Baker membuat formula perumusan tujuan pembelajaran berdasarkan rumus ABCD. Lihat gambar di bawah ini.

 

Langkah Ketiga, Perumusan Materi.

 

Merumuskan materi pembelajaran berangkat dari perumusan tujuan. Materi disusun harus memperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut:

 

Pertama, Valid.

 

Materi harus benar-benar telah teruji kebenaran. Dismaping itu, materi harus aktual dan kontekstual –sesuai dengan konteks anak.

 

Kedua, Tingkat kepentingan (significant).

 

Sejauh mana materi sangat penting bagi siswa?.

 

Ketiga, Kebermanfaatan (utility).

 

Materi harus bisa meningkatkan kemampuan siswa baik akademik maupun non akademik.

 

Keempat, Learnability.

 

Materi harus bisa dipelajari oleh siswa, menarik minat siswa untuk belajar.

 

Contoh.

 

Rumusan Tujuan: Siswa mampu menyebutkan angka 1-100.

Rumusan Materi: Angka 1-100

 

Langkah Keempat,  Perumusan Alat Ukur Keberhasilan.

 

Pembelajaran yang diberikan oleh guru kepada siswa harus dapat diukur apakah tujuan dari pembelajaran dapat tercapai atau tidak. Untuk mengukur diperlukan sebuah tes (alat evaluasi).

 

Instrument tes yang baik harus memuat kriteria-kriteria sebagai berikut:

 

Pertama, validitas tes.Validitas adalah ketepatan dan kesesuaian instrumen dengan indikator dan aspek tercapainya indikator yang disusun berdasarkan kajian teoritis dan kesesuaian yang terjadi dilapangan.

 

Kedua, Realiabelitas.Instrumen test harus konsisten, tidak berubah-ubah, dapat dipercaya. Ketiga, Daya Beda dan Tingkat Kesukaran. Sifat tes yang lain adalah mempuyai daya pembeda atau diferensiasi.

 

Keempat, Keseimbangan Tes. Tes yang baik mempunyai sifat seimbang, terutama dalam aspek komposisi materi tes. Kelima, Efisiensi. Alat ukur tes harus memiliki sifat efisiensi. Sangat tidak efisien jika seorang guru siswa berkebutuhan khusus membuat instrument tes verbal bagi siswa retardasi mental.

 

Keenam, Obyektifitas. Tes yang baik harus obyektif atau paling tidak kita harus dapat meminimalkan subyektifitas. Ketujuh, Kekhusuan. Instrumen tes harus memiliki sifat kekhususan, artinya beberapa tes tertentu hanya bisa diberikan kepada siswa-siswa tertentu pula –mereka yang telah mendapatkan materi pelajaran, bagi mereka yang belum, instrument tes tidak diberikan.

 

Kedelapan, tingkat kesulitas tes. Instrumen tes harus disusun dengan memperhatikan tingkat kesulitas dan kemudahan. Soal tidak terlalu mudah juga tidak terlalu sulit. Kesembilan, Keadilan Tes. Tes yang disusun harus menganut asas keadilan, terhindar dari sikap subyektifitas Kesepuluh, Alokasi Waktu Tes. Penentuan alokasi waktu harus disesuaikan dengan kemampuan siswa pada umumnya.

 

Garis Besar Program Media (GBPM)

 

gARIS bESAR PROGRAM MEDIA

Penulis menjadikan GBPM sebagai petunjuk dalam membuat naskah program media.GBPM dibuat dengan mengacu pada alisis kebutuhan, tujuan, materi, dan telaah topik sehingga hasil yang didapat akan matching.  Di bawah ini contoh GBPM.

 

Mencari Sumber Inspirasi

 

Tahukah kamu?

 

LCD proyektor, buku, gambar dan sejenisnya yang sering digunakan oleh guru masuk kategori media zaman “old”. Pelajar zaman now sangat identik dengan media sosial dan hal-hal yang berbau kreativitas.

 

Guru zaman Now harus kreatif salah satunya adalah harus melek teknologi. Media-media seperti Youtube, Amazing Presentation, Adobe Spark, dan Google Aps layak untuk dicoba.

 

Berselancar dengan internet untuk mencari sumber inspirasi merupakan salah satu kegiatan yang bisa memunculkan kreativitas guru. Situs pinterest bisa menjadi salah satu referensi.

 

Pinterst adalah virtual pinboard di mana pengguna bisa mengunggah foto atau gambar yang bisa dimasukan kedalam pelbagai kategori dan bisa di custom. Situs yang didirikan oleh Ben Silbermann tersebut berisi banyak sekali gambar yang bisa dijadikan sebagai sumber inspirasi.

 

Selamat mencoba!.