Guru profesional paham dunia terus berubah dan berkembang, karena itu ia telah mempersiapkan akan adanya perubahan. Jika dalam perjalanan selama ini kemampuan guru tidak meningkat, maka ia harus melakukan evaluasi diri. Evaluasi diri dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang ditujukan kepada dirinya sendiri. Beberapa pertanyaan tersebut, diantaranya:

  • Keterampilan mengajar apa yang sudah aku kuasasi?
  • Kenapa kemampuan saya dari hari ke hari tidak pernah meningkat?
  • Sudah siap an saya untuk menerima perubahan?
  • Keterampilan pedagogik apa yang harus saya pelajari?

Jika kita sudah pernah atau sering melakukan perenungan di atas, Alhamdulillah berarti kita masih mempunyai potensi untuk berubah. Jika tidak maka ada yang salah dengan diri kita.

Dari dulu RPPnya begitu-begitu saja, mengajar hanya mengandalkan modal ceramah, untuk mengupdate data personal dalam sebuah aplikasi itupun harus bergantung pada operator karena kita gaptek. Jika kita tidak mau berubah, bagaimana bisa kita menginginkan siswa kita untuk berubah?. Tidak masuk akal bukan?. Realistis!.

 

StephenRCovey Quote

Steven R Covey mengatakan, “To change ourselve effectively, we first had to change our perceptions”. Benar, untuk merubah diri sendiri  sangat efektif jika seseorang merubah persepsinya terlebih dahulu.

Saya lebih menyukai menggunakan kata “Mind Set” dari pada menggunakan kata “persepsi”. So, jika seorang guru ingin berubah, maka Mind Set seorang guru harus dibangun (dengan benar) terlebih dahulu. Jika yang tertanam sudah usang, seperti halnya sebuah PC komputer, maka perlu di uninstal.

 

Mind Set

 

Apa itu Mindset?. Mind set adalah cara pandang, sikap, pemikiran. Dalam arti makna yang luas, mindset adalah suatu kepercayaan yang mempengaruhi sikap seseorang; sikap mental yang menentukan respon dan pemaknaan terhadap situasi.

Seorang guru kelas SD memandang bahwa jauh lebih penting mempelajari keilmuannya yang sesuai yang ia ampu sehari-hari dari pada mempelajari ilmu yang lain, seperti keterampilan, atau ortopedagogik.

Ia telah membangun mindset bahwa ilmu yang lain baginya tidaklah penting karena “memang” secara umum tidak berhubungan. Jika saja ia mau merubah mindset nya, ia akan menyadari betapa perlu seorang guru kelas SD mempelajari ilmu ortopedagogik, karena suatu saat nanti guru tersebut akan menemui siswa yang mengalami problem belajar, seperti anak-anak dengan kesulitan belajar atau ADHD.

 

Fixed & Growth Minset

 

dweck quote

 

Seorang Profesor Psikologi Universitas Standford, Carol Dweck membagi mind set manusia ke dalam 2 kategori. Secara ringkas adalah:

 

Pertama., orang-orang yang meyakini bahwa kualitas diri mereka tetap, tiidak beruah.Dweck menyebut orang seperti ini dengan fixed mindset.

Kedua, orang yang meyakini bahwa kualitas diri meraka bisa bertumbuh. Dweck menyebutnya sebagai orang dengan Growth minset.

Orang dengan fixed mindset cenderung kaku (rigid), tidak mau tantangan dan sulit menerima perubahan. Sebaliknya, seseorang dengan Growth mindset memiliki kecenderungan fleksibel, sangat antusias menerima tantangan, mau berubah dan memahami akan hukum perubahan.

Pemilik fixed mindset mengganggap sebuah usaha tidaklah berguna. Dia tidak akan merubah apapun. Tidak mengubah kecerdasan, bakat, karakter maupun oppurtunity. Sementara itu, pemilik growth mindset menganggap suatu usaha dan kerja keras adalah jalan menuju penguasaan, dan perubahan. Mereka yakin, kecerdasan, bakat, karakter dan oppurtunity bisa mereka raih asal mau bekerja ke arahnya.

Dampak dari kedua minset di atas sangat kentara. Kita akan melihat pemilik fixed mindset dari tahun ke tahu tidak mengalami perubahan, tidak berkembang alias begitu-begitu saja. Seringkali saat mereka menemukan sebuah kesulitan atau sebuah rintangan, mereka akan berhenti.

Orang seperti apakah Anda saat ini?

 

Mindset Super

 

Erick Jensen dalam bukunya yang berujudul Super Teaching memberikan advice bagaimana menjadi seorang guru sukses dengan membangun 12 minset super.

 

Mindset 1: Topi yang lentur.

Guru yang paling berhasil dapat beralih dari satu topi ke topi yang lain secara mulus, mengganti peran sesuatu kebutuhan: menjadi orang tua bagi mereka di sekolah; pelatih, penulis hingga administrator.

 

Mindset 2: Dari Bermain Aman ke Pengambil Risiko

Para guru super saat ini adalah pembelajar yan bergairah dan setia, yang siap mengambil resiko dan melakukan kesalahan. Seorang guru perlu mengambil resiko untuk tetap bertahan dalam profesi. Salah satu contohnya adalah, Apakah Anda meminta untuk mengikuti konferensi dengan biaya sendiri atau menunggu seseorang (biasanya Kepala sekolah atau Dinas Pendidikan setempat) untuk mengirim Anda?

 

Mindset 3: Sekarang Semua Pengajaran Bersifat Global.

Pendidikan global menciptakan tantangan bagi seorang guru karena ada kemungkinan bahwa guru memiliki pengaruh yang minimal atas kurikulum khusus di ruang kelas, Tetapi di sisi lain merupakan pengingat bahwa setiap kesempatan yang Anda dapatkan, mengglobal dalam pemikiran Anda. Ketika seorang guru menceritakan tentang planet secara keseluruhan, sebanyak seperti Anda menceritakan kepada mereka tentang lingkungan mereka. Gunakan contoh-contoh yang dapat menimbulkan kesadaran, dan berikan siswa pemahaman yang lebih baik tentang dunia luar ruang kelas Anda.

 

Mindset 4: Makna adalah Tanggapan.

Jika suatu ketika guru menjelaskan tentang fotosintesa, ternyata banyak siswa yang tidak memahami tentang proses fotosintesa. Kita seringkali memberikan penilaian cepat dengan langsung menyalahkan siswa. Harusnya seorang guru harus sering merumuskan kembali apa yang telah ia katakan/berikan kepada siswa, karena ia tidak lagi mempermasalahkan kesalapahaman kepada pihak siswa. Cari respon balik, setelah itu rencanakan pendekatan yang lain.

 

Mindset 5: Tidak ada Kegagalan, yang Ada Hanya Hasil

Jangan merasa minder atas sebuah kegagalan. Tanamkan bahwa setiap kali yang kita usahan akan selalu membawa dampak/hasil (baik positif maupun negatif). Terima semuanya, sebagai pemicu yang melakukan perbaikan terus menerus.

 

Mindset 6: Umpan Balik itu Sahabat Anda.

Selalu cari umpan balik, khususnya dari siswa. Umpan balik adalah kunci untuk menang. Bagi guru master, umpan balik adalah kehidupan dari peningkatan terus menerus.

 

Mindset 7: Percakapan Merubah Realitas.

Guru master melakukan percakapan-percakapan tentang kemungkinan-kemungkinan, sementara guru yang lain yang kurang efektif berbicara tentang keluhan-keluhan, masalah dan keterbatasan. Guru hebat selalu berbicara bagaimana mereka bisa mencapai apa yang mereka rencanakan, apa yang mungkin terjadi, gagasan-gagasan baru. Guru yang tidak efektif melakukan percakapan tentang keterbatasan siswa, bagaimana orang tidak mendengarkan mereka, mencari sebuah-sebuah kesalahan dan masih banyak lagi.

 

Mindset 8: Kekuatan untuk Memilih

Hakekat dari kemanusiaan adalah kekuatan memilih. Kekuatan tersebut terletak dalam momen antara stimulus dan tanggapan kita. Pada suatu titik kehidupan Anda, Anda dapat mengganti kendaraan, menikmati kendaraan tersebut. Kuncinya adalah –Anda memilih bagaimana caranya merespon hidup.

 

Mindset 9: Sikap “Memaafkan Hari ini”

Tidak ada yang sempurna dalam hidup ini, termasuk di dalam seluruh konsep penddidikan yang tengah berjalan saat ini. Kita harus menyakini, terdapat ketidaksempurnaan sehingga kita harus memaafkan ketidaksempurnaan tersebut, kemudian kita memandang ketidak sempurnaan itu sebagai anugerah untuk terus melakukan perbaikan, atau dalam istilah nya “menjadi manusia pembelajar”.

 

Mindset 10: Ego yang Baik, Ego yang tidak Baik

Ada dua ego, baik dan tidak baik.

Ego yang tidak baik, sering mempergakan perilaku seperti:

  • Menolak memungut asbak yang jatuh di lantai.
  • Ingin selalu benar dalam debat atau diskusi.
  • Mementingkan penampilan yang cerdas, jenaka, atau keren.
  • Membuat siswa merasa tajut karena melupakan sesuatu.
  • Lebih mengutamakan kepentingan mereka daripada siswa.
  • Menjaga segala sesuatu tetap sama, melindungi status quo.

Sedangkan pribadi ego yang baik mencerminkan perilaku:

  • Membiarkan kerendahan hati dan kesalahan Anda sebagai contoh.
  • Membiarkan orang lain didengarkan dan diakui.
  • Menginginkan siswa memahami betapa hebatnya mereka.
  • Membuat siswa merasa aman untuk mengakui kesalahan mereka.
  • Puas dengan membantu orang lain sampai berhasil.

Salah satu cara termudah untuk mengukur ego adalah dengan mengajukan pertanyaan sederhana pada diri Anda sendiri: Apa yang saya kejar hari ini: mendapatkan kredit untuk menjadi bintang atau membuat siswa/guru/staf saya mendapatkan kredit untuk menjadi bintang?.

 

Mindset 11: Kita Semua Melakukan yang Terbaik.

Ketika siswa kita melakukan kesalahan atau pekerjaan mereka jelek, kita seringkali mengomentari bahwa mereka tidak maksimal dalam melakukan pekerjaan. Ini adalah pemikiran yang keliru. Seringkali para siswa mendapatkan nilai yang jelek padahal mereka sudah melakukan yang terbaik dengan belajar bersungguh-sungguh. Guru yang tanggap mencoba, selanjutnya, menciptakan jalan keluar dan metode alternatif supaya maksud positif dapat ditransformasikan ke dalam perilaku yang postif.

 

Mindset 12: Anutlah Paham Tao Tentang mengajar.

Ini didasarkan pada prinsip yang dihasilkan oleh filsuf China, Lao Tzu. Seseorang yang ingin menjadi guru master harus memahami apa sesungguhnya mengajar itu. Mengajar itu menyangkut melayani orang lain, membantu setiap orang menemukan diri tertingginya, kerendahan hatinya, pengakuanya, dan memberikan kepada orang lain penghargaan dari cinta yang mereka butuhkan untuk bertumbuh.

 

Lakukan Hal ini

 

Bagaimana saya bisa membangun Growth Mindset dan Mindset super?

 

Pertama, Membangun Kesadaran Diri.

Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Renungi apa-apa dan potensi yang Anda miliki. Pikirkan jika Anda tidak ingin berubah, apa akibat yang akan Anda alami?. Apa ruginya jika Saya tidak bisa mengoperasikan komputer? Apa yang akan saya terima jika saya tidak bisa membuat karya tulis ilmiah? . Dunia berubah dengan cepat menuntut seseorang bisa beradaptasi.

Kedua, Ciptakan Quriousity.

Jadilah seeprti anak kecil yang selalu ingin tahu. Quriousity akan mendorong seseorang untuk melakukan action, terus belajar dan ingin bertumbuh.

Ketiga, Hindari label Negatif.

Label dan kata-kata negatif dapat menurunkan semangat untuk bertumbuh. Apa jadinya jika dalam otak kita selalu dipenuhi oleh kata-kata di bawah ini:

  • Ini kelihatannya sangat sulit.
  • Tidak mungkin saya melakukannya.
  • Saya khawatir jika saya melakukan pekerjaan ini.
  • Saya tidak mempunyai apa-apa untuk melakukan pekerjaan ini.
  • Sepertinya saya sulit berubah.

Kelima, Kegagalan adalah proses.

Kegagalam adalah proses, bukan hasil. Jadikan kegagalan untuk mendapatkan feedback yang berharga dari lingkungan terdekat kita.

Keenam, Fokus.

Berorientasilah pada pemecahan masalah, bukan masalah itu sendiri. Dan cobalah untuk komitmen mencurahkan perhatian pada sebuah Change Planning (rencana perubahan). Saya pada tahun ini akan fokus membuat karya tulis, saya bisa dan harus bisa!.

Ketujuh, Lingkungan yang tepat.

Carilah lingkungan yang tepat, yang membuat Anda bisa bertumbuh, belajar bersama dan berkolaborasi positif. Salah satu faktor mengapa anak-anak jalanan sulit berubah? Salah satunya karena mereka selalu berada dalam lingkungan yang buruk. Namun tidak semua manusia yang berada dalam lingkungan buruk tidak berhasil dalam meraih kesuksesan. Ada, namun jumlahnya sangat kecil sekali.

Kedelapan, latihan dan evaluasi.

Akhirnya, Eric Jensen memberikan saran sebagai bahan pengingat ke-12 minset di atas, Anda  bisa menuliskan puluhan mindset  sebagai afirmasi pada kartu indeks dan meninjaunya setiap hari untuk sebagai bahan latihan dan memperluas keterampilan.

 

Demikian artikel terkait Mindset Seorang Guru. Semoga bisa menambah insight kita semua.