Ada banyak jenis bentuk Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) yang bisa dilakukan oleh guru professional, salah satunya adalah kegiatan pengembangan diri. Kegiatan pengembangan diri pada kegiatan PKB adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk meningkatkan kompetensi dan keprofesiannya.

Kegiatan pengembangan diri tersebut ada dalam dua bentuk, yakni: Pertama kegiatan pelatihan atau diklat fungsional, kedua kegiatan kolektif guru.

Kami akan jelaskan secara rinci kedua kegiatan pengembangan diri diatas mulai dari kerangka isi, bukti fisik, angka kredit hingga tips sukses bagaimana merencanakan kegiatan pengembangan diri.

 

Kami akan menjelaskan kedua kegiatan di atas.

 

Pertama, Diklat Fungsional

workshop

Contoh kegiatan Workshop

 

Diklat fungsional guru adalah kegiatan seorang guru dalam mengikuti pelatihan atau pendidkan yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas guru yang dilaksanakan dalam waktu tertentu, Diklat fungsional dapat berupa kursus, pelatihan, workshop, bimbingan teknis, penataran dan lain-lain.

 

Catatan:

Guru dapat mengikuti kegiatan diklat fungsional atas dasar penugasan dari atasan langsung maupun atas kemauan sendiri.

Bimbingan Teknis atau Bimtek termasuk kategori kegiatan ini.

 

Tidak harus sesuai dengan jurusan guru yang bersangkutan. Studi kasus: guru dengan matpel matematika apa harus mengikuti bimtek keprofesian secara spesifik? Guru tersebut boleh mengikuti pelbagai kegiatan bimtek “yang mendukung” tugasnya sebagai guru. Misal, guru yang bersangkutan bisa mengikuti kegiatan bimtek pembuatan media, strategi pembelajaran berbasis online, teknik membuat modul, dan masih banyak lagi.

 

Sementara lembaga yang diakui dalam menyelenggarakan diklat fungsional adalah institusi pemerintah (seperti dinas pendidikan, dinas kominfo), perguruan tinggi dan lembaga profesi seperti PGRI.

 

Bukti Fisik

 

• Bagi guru yang mengikuti kegiatan bimtek diklat fungsional harus bisa membuktikan keikut sertaanya dengan sertifikat.

• Fotocopy surat tugas dari kepala sekolah/madrasah/kepala dinas/kepala cabang dinas, atau pejabat lain yang terkait. Jika guru yang bersangkutan mengikuti kegiatan diklat fungsional atas kehendak pribadi, maka harus menyertakan surat persetujuan mengikuti diklat fungsional dari keapa sekolah/instansi terkait.

• Fotocopi sertifikat diklat yang disahkan oleh kepala sekolah/madrasah/instansi terkait.

• Laporan hasil kegiatan diklat fungsional yang dibuat oleh peserta, diketik dengan format yang telah ditentukan kemudiandi jilid dengan rapi.

 

Format penyajian laporan kegiatannya adalah:

 

Bagian awal

Memuat judul diklat, lembar persetujuan, keterangan tentang kapan waktu pelaksaan diklat, di mana kegiatan diklat dilaksanakan,tujuan dari penyelenggaraan diklat, lama waktu pelaksanaan diklat, surat penugasan,pelaksanaan, fotokopi sertifikat.

 

Bagian Isi

Bagian isi memuat:

Uraian rinci dari tujuan diklat/pengembangan diri yang dilakukan

Penjelasan isi materi yang disajikan dalam diklat serta urainan kesesuaian dengan peningkatan keprofesian guru

Tindak lanjut ayang akan atau telah dilaksanakan guru peserta diklat berdasarkan hasil dari kegiatan diklat yang telah diikuti

Dampak terhadap peningkatan kompetensi guru dalam peningkatan mutu KBM dan siswanya

Oh ya dalam menulis uraian, hendaknya guru tidak hanya sekedar menulis uraian, tapi minimal guru peserta diklat harus bisa membuat deskripsi/narasi dengan jelas dan detil masing-masing session meskipun tidak perle sedetil mungkin. Yang terpenting jangan terlihat asal membuat deskripsi apalagi copy paste dari buku panduan kegiatan yang disediakan oleh panitia.

 

Penutup

Lampiran, berupa matrik ringkasan pelaksanaan diklat yang disajikan dalam bentuk format di bwah ini:

Matrik RIngkasan DIklat

 

Sedangkan besaran angka kreditya sebagai berikut:

Besaran AK diklat fungsional

 

Dari table angka kredit diatas jika guru ingin mendapatkan nilai1, maka guru harus mengikuti kegiatan diklat minimal 30 jm. Bagaimana jika hanya 25 jm? Tidak bisa mendapat nilai minimal. Jika guru mengikuti diklat 70 jam berapa angka kreditnya? Guru yang bersangkutan masih mendapat nilai 1. Jika ingin mendapat nilai 2, maka minimal diklat fungsional berdurasi 81 jm.

 

Kegiatan Kolektif Guru

 

Kegiatan kolektif guru meruupakan kegiatan guru dalam mengikuti kegiatan pertemuan ilmiah atau kegiatan Bersama yang dilakukan guru dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas guru yang bersangkutan.

 

Diantara yang masuk ke dalam kategori kegiatan kolektif guru:

• Lokakarya atau kegiatan kelompok/musyawarah kerja guru seperti training penyusunan modul atau pembuatan perangkat pembelajaran. Kegiatan semacam ini biasa diselenggarakan oleh MKG/MGMP/KKG/lembaga profesi guru

• Sebagai peserta atau pemateri dalam kegiatan koloqium, pertemuan ilmiah, diskusi ilmiah atau seminar

• Kegiatan kolektif lain yang sesuai dengan tugas dan kewajiban guru dalam kaitannya dengan pengembangan keprofesian.

 

Dalam mengikuti kegiatan di atas, dapat didasarkan atas penugasan oleh atasan maupun atas kehendak guru yang bersangkutan.

 

 

Contoh kegiatan seminar

 

Sedangkan bukti fisik yang harus dilampirkan:

Foto kopi surat tugas dari atasan atau surat persetujuan. Laporan setiap kegiatan yang dibuat dan dijilid oleh guru.

 

Format laporan lihat di bawah ini!

 

Bagian Awal

Kegiatan awal meliputi judul kegiatan, lembar persetujuan, tentang kegiatan kapan waktu pelaksanaan, dimana, tujuan, durasi, surat penugasan, surat persetujuan, serta foto kopi sertifikat.

Kegiatan yang pelaksanaanya diselenggarakan oleh kelompok/musyawarah guru seperti KKG, MGMP, KKS, MKKS, sertifikat diberikan satu kali dalam satu tahun sesuai dengan tahun ajaran di akhir pelaksaan pertemuan kegiatan rutin. Sertifikat tersebut ditandatangani oleh kepala dinas atas usulan ketua kelompok/musyawarah kerja.

 

Bagian Isi

Bagian isi memuat:

• Tujuan kegiatan yang dilakukan
• Penjelasan isi kegiatan
• Tindak lanjut yang akan atau yang telah dilaksanakan oleh guru
• Penutup

 

Bagian Akhir berisi:

Makalah/materi yang disajikan dalam kegiatan pertemuan, baik guru sebagai penyaji atau sebagai peserta

Matriks ringkasan pelaksanaan kegiatan kolektif

matriks ringkasan keg kolektif guru

 

Besaran Angka Kredit

Besaran Angka Kredit keg kolektif

 

Tips Sukses Merencanakan Pengembangan Diri

 

Kami akan membagi tips sukses merencanakan kegiatan pengembangan diri sebagai berikut:

 

Pertama, Menata Niat

Tata niat dengan benar dengan menemukan sebuah tujuan lebih dalam, bukan sekedar hanya untuk mencari nilai angka kredit. Mas Andreas Senjaya, CEO IGrow memberikan nasehat bagus, “temukan alasan, jawab pertanyaan mengapa kita melakukan sesuatu, semakin kuat ia semakin besar energi yang bisa jadi bahan bakar kita untuk konsisten dan kuat menghadapi segala tantangan”

 

Kedua, Merencanakan sedari awal

Buat rencana sedari awal. Jangan menunggu membuat perencanaan sempurna yang pada akhirnya membuat sang planner kesulitan untuk mengeksekusi. Benar kata George S Patton, “A good plan violently executed now is better than a perfect plan executed next week”.

Saya beri contoh, jika kamu adalah seorang guru dengan golongan IIIA dan ingin naik ke golongan IIIB. Membutuhkan pengembangan diri dengan nilai 3. Berarti paling tidak kamu harus merencanakan dalam kurun waktu selama empat tahun mengikuti tiga kali diklat fungsional masing-masing minimal 31 jam.

 

Ketiga, Pro aktif

Jangan menunggu untuk mendapat tugas dari atasan. Kamu harus pro aktiv untuk mencari kegiatan pengembangan diri baik melalui relasi maupun internet (baca: mesin pencahri) dengan menuliskan beberapa kata kunci, seperti “bimtek pendidikan 2018”

Diklat fungsional bisa menjadi jalan untuk membenahi problem kapasitas guru yang terbatas. Namun diklat fungsional tersebut harus diupayakan secara mandiri oleh guru. Jadi teringat pesan Stephen R Covey, “People who end up with the good jobs are the proactive ones who are solutions to problems, not problems themselves, who seize the initiative to do whatever is necessary to get the job done”.

 

Keempat, Kejar Passion Kamu

Masing-masing guru pasti mempunyai passion. Jangan melupakan akan hal ini. Berlari-lari mengejar diklat fungsional dengan mengkesampingkan passion tidaklah baik. Kadangkala ada diklat fungsional yang nilai angka kreditnya tidak sampai satu, namun jika itu sesuai dengan pasionmu, maka kejarlah.

 

Kelima, Segera Membuat Laporan

Kebanyakan peserta diklat mayoritas tidak segera mendokumentasikan atau membuat laporan kegiataanya. Jika suatu saat nanti mereka membutuhkan, mereka biasanya baru membuatnya. Jadi fatal ketika semua unsur yang dibutuhkan, seperti dokumentasi dan sertifikat keberadaanya entah kemana. Kamu bisa memanfaatkan blog atau google site dalam menyimpan itu semua. Keuntungannya, laporan pengembangan diri kamu bisa kamu sharing dan dibaca oleh orang lain.

 

Kesimpulan

Kesimpulan dari uraian di atas:

Guru dapat mengikuti kegiatan pengembangan diri mulai dari diklat fungsional, dan kegiatan kolektif guru. Masing-masing mempunyai angka kredit berbeda.

Guru hendaknya merencanakan kegiatan pengembangan diri dengan sebaik-baiknya dimulai dengan membangun niat yang baik, planning sedari awal, pro aktiv, segera membuat laporan dan jangan meninggalkan passion kamu.

Demikian artikel Tips Merencanakan Kegiatan Pengembangan Diri Guru, semoga bermanfaat.